Penulis: Rafael Pinem, 29 September 2026
Tapteng (SORA1News.com)
Puluhan siswa di Dusun Borotan, Kelurahan Bonalumban, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), terpaksa digendong petugas BPBD saat menyeberangi Sungai Siaili untuk bersekolah, Selasa (29/9/2026). Kondisi itu terjadi setelah Jembatan Rambing yang menjadi akses utama warga putus diterjang banjir susulan.
Tanpa jembatan, siswa harus berhadapan dengan arus sungai untuk dapat melanjutkan perjalanan ke sekolah. Sebagian terpaksa melepas sepatu dan menggulung celana agar bisa menyeberang.
Melihat kondisi tersebut, petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapteng berinisiatif menggendong para siswa agar mereka dapat menyeberangi sungai dengan lebih aman dan tidak basah.
“Perahu dibuat terlalu dangkal, jadi kami buat dengan cara menggendong,” ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Tapteng, Erianto Tambunan, di Tukka, Selasa (29/9/2026).
Jembatan Rambing di Dusun Borotan roboh setelah dihantam terjangan air setinggi sekitar tiga meter yang membawa material sedimen banjir pada Sabtu (26/9/2026). Akibatnya, akses penghubung warga menuju jalan Kelurahan Bonalumban terputus total.
Sabar Tambunan (44), warga setempat, mengatakan menyeberangi Sungai Siaili kini menjadi satu-satunya cara warga melewati akses utama tersebut. Sekitar 65 rumah dengan ratusan warga disebut bergantung pada jembatan yang kini telah roboh.
“Sebelumnya akses lain ada. Ada dulu jembatan, tapi sudah rusak dan belum diperbaiki, sudah setahun lamanya,” ungkap Sabar.
Putusnya jembatan membuat aktivitas warga semakin sulit, mulai dari bekerja, mengantar anak bersekolah hingga mendapatkan pelayanan kesehatan.
Warga berharap pemerintah segera membangun jembatan darurat agar akses menuju Dusun Borotan kembali terbuka. “Kalau bisa dipercepatlah, karena akses lorong tiga dan lorong empat menjadi susah,” pintanya. (*)

