Penulis: Bang Nangin, 28 Oktober 2026
Medan (SORA1News.com)
Kalangan DPRD Sumut menegaskan, pada peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 yang jatuh pada, Rabu (28/10), harus menjadi momentum untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi bangsa, mulai dari sulitnya generasi muda memperoleh pekerjaan, kesenjangan keterampilan, hingga maraknya disinformasi dan perpecahan di media sosial.
Hal itu disampaikan anggota Fraksi Golkar DPRD Sumut Viktor Silaen SE MM dan Sekretaris Fraksi Hanura Ebenejer Sitorus SE MM kepada wartawan, Rabu (28/10) di DPRD Sumut menanggapi “Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke 98″ yang mengusung tema “Patriotik, Gigih, Berempati”.
“Semangat persatuan yang diwariskan pemuda pada 1928 tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus diwujudkan melalui kesempatan, keberanian dan tindakan nyata untuk membangun Indonesia. Artinya, peringatan hari Sumpah Pemuda ke 98 ini, jangan hanya slogan, tapi harus jadi agenda perubahan,” ujar Viktor Silaen.
Ditambahkan Viktor, di tengah tantangan tersebut, masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kemampuan generasi muda mengembangkan kompetensi, kreativitas dan daya saing, sehingga generasi muda dituntut lebih kritis serta harus bisa jadi perekat persatuan, yang selama ini kerap terjadi perpecahan di media sosial.
Selain itu, tambah Ebenejer Sitorus, perkembangan teknologi digital juga menghadirkan tantangan serius. Generasi muda harus mampu memilah informasi, memeriksa kebenaran berita dan tidak mudah terprovokasi oleh konten yang memecah belah.
“Generasi muda juga membutuhkan dukungan nyata melalui akses pendidikan berkualitas, pelatihan kerja, kesempatan berwirausaha dan ruang untuk mengembangkan inovasi. Potensi pemuda tidak akan berkembang maksimal apabila tidak diimbangi kesempatan yang adil untuk memperoleh pekerjaan dan berkontribusi dalam pembangunan,” ujar Ebenejer.
Di sisi lain, tambah Viktor Silaen, pemuda harus berani menyampaikan kritik dan gagasan secara bertanggung jawab serta kepedulian terhadap persoalan bangsa, termasuk masalah ekonomi, pendidikan, lingkungan dan pelayanan publik, perlu disalurkan melalui cara-cara yang konstruktif dengan tetap menjunjung hukum, etika dan kepentingan masyarakat.
Namun tidak kalah pentingnya, tambah Ebenejer, kecintaan kepada tanah air, ketangguhan menghadapi tantangan dan kepedulian terhadap sesama sebagai bekal generasi muda dalam menghadapi perubahan zaman harus tetap diutamakan.
“Semangat persatuan yang lahir pada 28 Oktober 1928 harus menjadi energi untuk membangun bangsa yang lebih adil, maju dan sejahtera. Pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton ketika persoalan bangsa muncul, tetapi harus ikut menghadirkan gagasan, karya dan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat,” tegas Viktor.
Diakhir keterangannya, Viktor dan Ebenejer mengajak semua pihak, di hari Sumpah Pemuda ini hendaknya menjadi titik tolak bagi seluruh elemen bangsa untuk lebih serius menyiapkan masa depan generasi muda. Persatuan harus dijaga, kesempatan harus diperluas dan potensi pemuda harus diberdayakan agar cita-cita Indonesia maju tidak berhenti sebagai janji, tetapi diwujudkan melalui kerja nyata. (*).

