Pdt Matthias Rohlfing Dari Klasis Herford, Germany Khotbah di GBKP Kemenangen Tani Medan

oleh
Foto Bersama: Pdt Matthias Rohlfing dari Klasis Herford, Germany foto bersama dengan Pdt Theodosius Keliat MTh, Pdt Albert Purba, Pt Sarikat Ginting dan Dk Alemina Br Surbakti, Minggu (20/9/2026) di GBKP Kemenangen Tani, Medan.(Foto SORA1News.com/Rafael Pinem).

Penulis: Rafael Pinem, 20 September 2026

Medan (SORA1News.com)

Pdt Matthias Rohlfing dari Klasis Herford, Germany menjadi pengkhotbah (pembawa firman) di Gereja GBKP Kemenangen Tani, Kecamatan Medan Tuntungan, Kotamadya Medan, Minggu (20/9), dengan menampilkan penerjemah Pdt Albert Purba (Pendeta GBKP).

Khotbah yang mengangkat thema dari Lukas 9:10-17 pada intinya mengingatkan jemaat tentang kasih dan kepedulian Tuhan kepada manusia. Melalui kisah Yesus memberi makan lima ribu orang, jemaat diajak memahami bahwa keterbatasan bukan menjadi alasan untuk berhenti berbagi.

Apa yang ada pada manusia, sekecil apa pun, apabila diserahkan kepada Tuhan dan digunakan dengan kasih, dapat menjadi berkat bagi banyak orang.

Di luar teks khotbahnya, Pdt Matthias juga menceritakan pengalamannya selama 12 hari berada di Kabupaten Karo, khususnya wilayah GBKP Klasis Sinabung, Tanah Karo, sejak 8-20 September 2026. Banyak kenangan dan pengalaman berharga yang diperolehnya bersama rombongan yang terdiri dari enam orang, yakni satu pendeta dan lima orang pertua.

“Sejak kami di Kabupaten Karo, banyak pengalaman yang kami peroleh. Pada umumnya saya sangat kagum kepada jemaat GBKP yang begitu taat beribadah. Kami keliling Tanah Karo dari satu tempat ke tempat lain, melintasi hutan, bahkan kadang naik mobil ke ladang pengangkut jagung menuju daerah-daerah terpencil. Tentunya memiliki sensasi tersendiri,” katanya.

Bagi Pdt Matthias, semangat jemaat GBKP dalam beribadah merupakan sesuatu yang sangat mengagumkan. Ia melihat gereja-gereja yang dikunjunginya dipenuhi jemaat. Kondisi itu, berbeda dengan kehidupan gereja di Jerman, yang hanya sebagian kecil jemaat yang masih rutin datang beribadah setiap hari Minggu.

“Jemaat GBKP sangat mengagumkan, taat beribadah dan gereja-gereja penuh. Berbeda dengan jemaat di Jerman. Hanya beberapa orang saja yang datang ke gereja setiap hari Minggu, bahkan ada yang hanya tiga atau empat orang, dengan alasan sangat sibuk. Akhirnya, semakin sedikit orang yang datang ke gereja, termasuk untuk mengerjakan pekerjaan Tuhan,” katanya.

Menurutnya, banyak masyarakat di Jerman lebih berusaha mencari uang dan mengejar kesibukan pekerjaan. Namun, pada saat yang sama, kehidupan ber gereja justru semakin berkurang.

“Orang Jerman berusaha mencari uang, tetapi makin banyak kegagalan yang kami alami. Tidak banyak lagi orang yang datang ke gereja. Akibatnya, banyak gereja yang akhirnya dijual. Berbeda dengan jemaat di sini, ramai-ramai datang ke gereja dan membangun gereja. Tetapi di Jerman, jarang datang ke gereja dan justru berlomba-lomba menjual gereja,” katanya.

Atas dasar itulah, Pdt Matthias mengatakan pihaknya datang ke Karo bukan hanya untuk melakukan kunjungan, tetapi juga ingin belajar dari semangat jemaat GBKP dalam kehidupan ber gereja. Semangat tersebut menjadi sesuatu yang sangat berharga untuk dibawa pulang dan menjadi bahan pembelajaran bagi kehidupan gereja di Jerman.

“Kami datang ke Karo karena ingin kembali belajar tentang semangat jemaat ke gereja. Sebab di Jerman, semakin lama jemaat semakin berkurang. Lebih banyak yang meninggal daripada yang lahir menjadi jemaat gereja. Bahkan banyak anak-anak yang baru lahir tidak dibaptis,” katanya.

Ia mengaku perjalanan selama 12 hari di Tanah Karo memberikan pengalaman yang tidak mudah dilupakan. Selain melihat kehidupan jemaat GBKP dalam beribadah, rombongannya juga berkesempatan melihat langsung kehidupan masyarakat hingga ke berbagai daerah dan lokasi pelayanan yang cukup terpencil.

Usai melakukan kebaktian Minggu di GBKP Kemenangen Tani, Pdt Matthias melanjutkan kegiatan dengan dialog dan tanya jawab bersama jemaat. Kegiatan tersebut dipandu sekaligus diterjemahkan oleh Pdt Albert Purba dari Unit Kemitraan Oikumene di lingkungan Moderamen GBKP.

Dialog tersebut menjadi kesempatan bagi jemaat untuk mendengar langsung pengalaman kehidupan gereja di Jerman sekaligus berbagi pengalaman mengenai kehidupan ber gereja di lingkungan GBKP.

Hadir dalam kebaktian tersebut, Ketua BPMR GBKP Runggun Kemenangen Tani Dk Jantoni Tarigan SH, Pdt Theodosius Keliat MTh yang saat itu sebagai liturgis, seluruh Pt/Dk, Kategorial dan para jemaat yang memadati gereja GBKP.(*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *